Dari keprihatinan lahir SAMBAS CITY GROUP
Oleh: Hendra (the President of SCG)
selama sekolah di Pontianak banyak sekali kendala yang saya hadapi ketika menjalani sekolah selama 3 tahun, pertama saya ingin sekali bergabung dalam organisasi lokal dari daerah sambas, namun hal ini tak aku dapatkan selama 3 tahun, karena melirik dari segi pertambahan penduduk desa ke kota membuat saya berfikir apakah di daerah kami (sambas ) tak ada sekolah yang bermutu sehingga banyak yang keluar daerah, dalam masalah ini lalu muncullah inisiatif saya tentang perkumpulan yang merekrut seluruh anak daerah terbaik bergabung dalam menyelesaikan masalah yang ada ini, namun harapan ini hancur dalam beberapa kurun waktu kedepannya diakibatkan oleh minimnya komunikasi antar putra putri daerah.
lalu setelah selesai sekolah saya mencoba untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas yang tak asing lagi di kalbar bahkan nasional, namun dalam sisi ini saya belum beruntung dan membuat saya terpaksa menunda perkuliahan selama 2 tahun (nganggur 2 tahun), namun jiwa ingin mengenyam ilmu yang lebih lagi saya mencoba mendaftar disalah satu universitas islam negeri
Selasa, 05 Agustus 2014
Senin, 04 Agustus 2014
Ayo generasi MUDA kita bangkit, melalui SCG
Oleh Hendra
Organisasi ini boleh dibilang masih berusia muda dan belum banyak aktivitas yang kami lakukan karena faktor SDM yang sadar akan mengembangkan visi misi yang telah lama di bentuk,
dalam hal ini saya sendiri sebagai pendiri sangat bertanggung jawab atas segala kondisi yang ada di internal,
tapi in shaa Allah dalam waktu dekat ini kami kami yang bergerak dalam SCG dan member yang aktif akan melakukan perubahan dalam segala sektor,
harapan saya kedepan melalui organisasi yang saya bentuk ini yang penuh dalam kalkulasi dan pertimbangan yang sangat memadai untuk perkembangan generasi muda yang saat ini boleh dikatakan jauh dari kata baik, mahasiswa seakan tidak berani melakukan perubahan-perubahan yang padahal secara pribadi mereka mempunyai keahlian khusus dalam bidangnya. nah,, dengan adanya SCG ini semua anggota aktif maupun pasif bisa mengmbangkan ide yang briliant tersebut. secara umum telah saya singgung pada tulisan-tulisan yang telah saya posting,, salam SAMBAS BISA!!
Oleh Hendra
Organisasi ini boleh dibilang masih berusia muda dan belum banyak aktivitas yang kami lakukan karena faktor SDM yang sadar akan mengembangkan visi misi yang telah lama di bentuk,
dalam hal ini saya sendiri sebagai pendiri sangat bertanggung jawab atas segala kondisi yang ada di internal,
tapi in shaa Allah dalam waktu dekat ini kami kami yang bergerak dalam SCG dan member yang aktif akan melakukan perubahan dalam segala sektor,
harapan saya kedepan melalui organisasi yang saya bentuk ini yang penuh dalam kalkulasi dan pertimbangan yang sangat memadai untuk perkembangan generasi muda yang saat ini boleh dikatakan jauh dari kata baik, mahasiswa seakan tidak berani melakukan perubahan-perubahan yang padahal secara pribadi mereka mempunyai keahlian khusus dalam bidangnya. nah,, dengan adanya SCG ini semua anggota aktif maupun pasif bisa mengmbangkan ide yang briliant tersebut. secara umum telah saya singgung pada tulisan-tulisan yang telah saya posting,, salam SAMBAS BISA!!
Jumat, 07 Maret 2014
Stiker dan Kalender Anggota SCG
Sabtu, 01 Maret 2014
Pengajuan izin oprasional
untuk apara anggota SCG, aktifitas kita menghilang bukan berarti kita dalam keadaan mati, atau berjalan di tempat, justru di sini saya sebagai penanggungjawab sekaligus sebagai pendiri selama beberapa bulan sedang melakukan negosiasi dan sedang dalam proses mengajukan bantuan dana pembuatan baju dan dalam menyelesaikan proses serta syarat-syarat surat perizinan oprasioanal oraganisasi kita. mengingat kita organisasi yang baru jangn mengecilkan hati kita untuk bangkit, kita sebagai perintis bukan penerus,, fase-fase sulit akan segera mendekat... tapi kuncinya adalah semangat juang 45 harus di tanamkan sebagai seorang mahasiswa yang JENIUS.... salam Sukses
Salah Satu rencana kegiatan SCG yang bekerja sama dengan PEMKAB sambas
![]() |
| Ilustrasi Grafik pendataan mahasiswa |
ini adalah agenda yang akn segera di lakukan setelah mendapat izin oprasioanal dai PEMKAB sambas,,, kita akan melakukan statistik kemahasiswaan, kegiatan ini akn di lakuakn oleh tim SCG sendiri dan bagian BSKKS ( Badan Statistik Kemahasiswaan Kabupaten Sambas)
Fasilitas Anggota SAMBAS CITY GROUP
![]() |
| Kartu Anggota SCG |
![]() |
| biku panduan |
buku saku: buku ini berisi tentang latar belakang berdirinya SCG di tengah-tengah mahasiswa, serta visi misi dan tujuan utama bahkan rencana kegiatan semua telah terkonsep di buku ini... sekarang algi dalam proses penyusunan..
![]() |
| Baju Anggota Sambas City Group |
Rabu, 26 Februari 2014
Sambas City Group BISA...!
Oleh: Hendra
Agent of Change dan Agent of Control Social, itulah dua fungsi utama mahasiswa yang telah dikenal sejak awal. Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang dapat menyongsong perubahan kearah yang lebih baik, juga sangat efektif sebagai kelompok yang kuat untuk mengontrol jalannya sistem pemerintahan. Mahasiswa yang mendapat banyak pengetahuan lewat didikan dunia kampus merasa memiliki beban dan tanggungjawab untuk melahirkan perubahan dan mendorong terciptanya keadilan serat kemakmuran bagi rakyat. Oleh karena itulah, mahasiswa kerap kali melakukan gerakan-gerakan yang bersifat menentang terhadap pemerintah ketika pemerintah dianggap telah melenceng. Untuk lebih
jelasnya penulis akan memaparkan gerakan mahasiswa dari masa ke masa sejak Indonesia belum merdeka sampai pada gerakan reformasi pada tahun 1998.
Agent of Change dan Agent of Control Social, itulah dua fungsi utama mahasiswa yang telah dikenal sejak awal. Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang dapat menyongsong perubahan kearah yang lebih baik, juga sangat efektif sebagai kelompok yang kuat untuk mengontrol jalannya sistem pemerintahan. Mahasiswa yang mendapat banyak pengetahuan lewat didikan dunia kampus merasa memiliki beban dan tanggungjawab untuk melahirkan perubahan dan mendorong terciptanya keadilan serat kemakmuran bagi rakyat. Oleh karena itulah, mahasiswa kerap kali melakukan gerakan-gerakan yang bersifat menentang terhadap pemerintah ketika pemerintah dianggap telah melenceng. Untuk lebih
jelasnya penulis akan memaparkan gerakan mahasiswa dari masa ke masa sejak Indonesia belum merdeka sampai pada gerakan reformasi pada tahun 1998.
Selasa, 25 Februari 2014
logo terbaru
logo ini tidak jauh berbeda dengan logo yang sebelumnya.... logo ini lebih simple dan sederhana, tapi tertap bercorak khas logo pemerintahan kab. sambas
SCG akan mendapat Izin Oprasional dari Pemerintah pusat daerah Kab. Sambas
Sambas City Group yang sudah terbentuk pada tahun 2013 akan segara di revisi dengan visi misi yang lebih mendalam lagi, dan akan segera mendapat izin dari pemerintah kab. Sambas. SCG akan mengganti fungsi menjadi SAMBAS CITY GROUP Community and Organization Centre yang artinya menjadi pusat dari semua organisasi dan komunitas,, dengan mengantongi izin dari PEMKAB insya Allah,,,, semua agenda akan berjalan dengan lancar... mohon dukungannya... satu lagi, logo juga otomatis akan segera di revisi,,, dengan design yg berbeda...
Rabu, 15 Januari 2014
Karya Tulis
Ciptakan pemuda yang produktif bukan konsumtif
Oleh : Hendra (pendiri SCG)
jika kita ingin melihat perubahan dan masa depan bangsa, maka lihatlah pemudanya sekarang, apa yang mereka lakukan sekarang, apa latar belakang dan cita-cita mereka. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber alamnya,, tapi kemana sumber daya manusianya,, adakah diantara kita yang bergerak untuk melakukan perubahan bangsa,
aya pribadi memandang indonesia sangat rawan akan ketidak adilan, ketidak seimbangan, ketidak telitian dalam memilih dan memilah calon pemimpin bangsa, apakah itu faktor dalam apakah faktor dari luar. lihat lah teman-teman indonesia banyak mempunyai calon pemimpin yang berbomdong-bondong untuk menjadi pejuang rakyat. tapi masalahnya apah mereka amanah, berkualitas, bertanggung jawab, peduli dan sebagai nya,, dan apakah mereka mempunyai misi dari hati atau hanya janji semata. atau juga hanya famor, dan mengharapkan gaji yang menggiurkan.. huhhh sungguh kasian para rakyat kita, yang semakin hari semakin di perbudak oleh para penjahat berkedok pemimpin,,, masya Allah,, saya sangat miris dengan keadaan ini.
saya disini sebagai pemuda yang baru bangun dari tidur selama 20 tahun, melihat betapa lemahnya rakyat kita, kita seakan tak punya hak atas hidup,,, hak-hak kita di rampas oleh tikus kantoran, mereka adalah para koruptor yang meraja lela dan tak ada racun untuk menghalangi aksi mereka untuk menggerogoti uang rakyat, lihatnya para pemerintah memaksa rakyat nya untuk membayar pajak tepat waktu,,, tapi apa yang mereka balas,,
untuk itu, mari kawan-kawan kita sebagai mahasiswa memegang kekuasaan yang kuat untuk menentukan nasib para petani, nelayan, buruh dan lain2, kembalikan hak mereka sebagai warga negara.
apa yang harus kita lakukan:
mulailah untuk berfikir masa depan, kita sebagai agen of change atau agen perubahan harus bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat,,, mulai semua dari apa yang bisa kita lakukan, jadi lah mahasiswa yang sukses! saran saya sebagai pendiri dan pelopor gerakan SAMBAS CITY GROUP ini, ayo bergabung bersama kami untuk mewujudkan cita-cita bangsa mulai dari daerah kita.. kita tidak bisa berkerja sendiri,,, SALAM SUKSES
Selasa, 14 Januari 2014
Film Sambas Terbaru 2013 “Ajal Da’ an Nunggu Tobat” dan “Kembang Polaria 2″
Sebuah
Film Sambas bermuatan religi ini mengisahkan kehidupan rumah tangga
Husin dan Fatimah. Pasangan suami isteri yang hidup bahagia. Namun di
tengah mengarungi bahtera rumah tangga, Fatimah mendapat cobaan yang
besar dalam hidupnya. Sikap suaminya berubah setelah dipecat dari kerja.
Semula suami adalah seorang yang penyayang itu telah menjadi suami yang
bersikap kasar kepadanya, bahkan tidak peduli lagi dengan keluarga.
Sikap Husin semakin menjadi- jadi dikala berteman dengan Bogoh dan Tepok
yang suka berjudi dan mabuk- mabukan.
Fatimah
sangat sedih melihat kondisi keluarganya. Dia berusaha untuk menyadarkan
suaminya, walau terkadang luka dihati yang diterimanya.
Ikuti kisah “Ajal da’an Nunggu Tobat” dalam sebuah Film Indie dengan menggunakan Bahasa Melayu dialog sambas : https://www.facebook.com/NanjungHarapan
Kembang Polaria 2
Setelah
sukses dengan film Kembang Polaria 1, akhirnya para sineas film tersebut
menggarap sekuelnya. Film Kembang Polaria 2 mengangkat pesan moral di
kehidupan masyarakat dengan tetap memasukkan unsur komedi yang merupakan
ciri khas film Kembang Polaria.
“Film kedua ini terinspirasi dari kisah warga kita yang hidup di
perantauan di Malaysia, yang tentunya tidak semua masyarakat yang
bekerja ke luar negeri itu mendapatkan pekerjaan atau kesejahteraan yang
layak, namun banyak juga yang hidupnya kurang beruntung ketika di
negeri Malaysia,” ujar H Herman alias H Gogo, produser Film Kembang
Polaria
Dikatakan,
film ini tidah hanya mengambil syuting di dalam negeri khususnya di
Sambas namun juga di Malaysia yaitu kawasan perbatasan Aruk Biawak.
“Lokasi syuting di antaranya Selakau, Tebas, Sambas, Sajingan termasuk
perbatasan Malaysia dan memasuki wilayah Malaysia di Aruk Biawak, Jawai
dan Tanah Hitam atau Paloh,”https://www.facebook.com/SBDKembangPolaria2
Visi Dan Misi SCG (Sambas City Group)
Visi :
- Mahasiswa mempunyai kecerdasan spritualisasi (SQ) yaitu kemampuan memberi makna hidup sebagai puncak spritual. Contohnya: semua aktivitas harus bernilai ibadah.
- Mahasiswa memiliki kecerdasan emosi (EQ) yaitu kemampuan mengendalikan emosi serta mendengar suara hati sebagai sumber innformasi. Contohnya: komitmen, loyalitas, kepekaan, motivasi, dan empati.
- Mahasiswa mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) yaitu kemampuan intelektual, analisis dan rasio.
Misi :
dari ketiga visi di atas, dapat kita simpulkan, bahwa seorang mahasiswa adalah tangan masa depan bangsa. sambas adalah pemegang kekuasaan mahasiswa terbanyak di kabupaten pontiank, tapi terkadang 7 dari 10 mahasiswa cendrung tidak produktif, masih tergantung kepada pengarahan yang bersifat memaksa, kenapa kita sebagai AGEN OF CHANGE tidak melakukan hal-hal yang mendorong masa depan kita sendiri,,, jadi kita harus berbenah untuk perubahan yang besar.
Minggu, 08 Desember 2013
Pertemuan pertama SCG
![]() |
| Photo bersama saat selesai acar |
Alhamdulillah.. malam ini (8 des 2013) acara pertemuan anggota SCG lancar, cuma ada sedikit kendala, karan separoh bahkan lebih anggota SCG yang lainnya tidak bisa hadir, karna berhalangan dengan kegiatan ekternal di kampus, jadi yang datang hnaya 12 orang, tapi cukup lumayan ramai, dalam pertemuan ini, membahas tentang keaktifan dan kegiatan yang akan di adakan dalam forum kita ini, dan acara ini di isi oleh Fahrurrazi sebagai penasehat kegiatan organisasi, di harap kan dalam pertamuan yang berikutnya semua anggota dapat menghadiri agenda kita. hasil kegiatan ini antara lain membahas tentang: 1. kesepakan kegiatan, 2. kekompakan dalam mengambil keputusan, 3. menjadi pemuda sambas yang bisa di andalkan, 4. menjadi pemimpin yang sukses, 5.mengharumkan nama baik pemuda sambas bahkan menjadi pelopor anak muda yang lainnya.
pada intinya komunitas kita ini akan mengadakan sebuah agenda yang akn kita sepakai bersama,
![]() |
| saat penyampaian materi oleh fahrurrazi |
![]() |
| anggota lagi mendengarkan pembicara |
![]() |
| photo bersama mr Azi (fahrurrazi) |
![]() |
| serius |
Minggu, 01 Desember 2013
Kec. Tangaran
Kecamatan Tangaran merupakan kecamatan kedelapan di Kabupaten Sambas yang dibentuk sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian diubah dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Kecamatan Tangaran terbentuk secara resmi pada Hari Senin tanggal 15 Mei 2006 yang merupakan pemekaran kedua dari Kecamatan Teluk Keramat dengan luas wilayah 186,67 Km2.
Wilayah Administrasi Kecamatan Tangaran membawahi 7 Desa terdiri dari :
- Desa Simpang Empat
- Desa Merpati
- Desa Tangaran
- Desa Semata
- Desa Pancur
- Desa Merabuan
- Desa Arung Parak
Sejak dibentuk pada tahun 2006 s/d sekarang pejabat yang duduk sebagai Camat yakni :
- A. Rahmat, SIP., M.Si.
- Agustian, SIP., M.Si.
- Rusniardi, S.Pd.I
(http://id.wikipedia.org/wiki/Tangaran,_Sambas)
Desa Tangaran Dusun Pendawan
Oleh: Hendra
Desa Tangaran terbagi atas beberapa Dusun,
di antaranya: Dusun, Pendawan, Dusun Pandam, Dusun Sedayan, Dusun Lubuk Baruk, Dusun Belawan
Dusun Pendawan
![]() |
| Ini merupakan kegiatan Rutin setiap tahunnya (merontok padi) |
Dusun Pendawan adalah sebuah dusun yang berada di antara Dusun Pandam dan Dusun Sedayan, Dusun Pendawan saat ini memiliki beberapa tempat yang di bangun berbagai Fasilitas beresama, karna letak nya yang berada di tengah-tenga, saat ini Dusun Pendawan Memiliki masjid yang bernama Masjid Jihad, dan sekolah dasar SDN 03 Pendawan, dan memiliki PAUD, dan juga satu-satunya pintu masuk yang ada Pintu Gerbangnya, antara Dusun Pendawan dan Dusun Sedaya, dan juga memiliki sebuah lapangan bola... dan sempat juga kantor Lurah juga berada di Dusun Pendawan, kampung ini memiliki 3 jalan, utama, dan saat ini sudah banyak rumah yang berada di dalam Gang,, SDN 03 pernah mendapat penghargaan atas kerapaiannya, SDN pendawan berada di ujung kampung dan tepatnya berada di tepi Sungai, dekat jembatan Nibung (jembatan yang terbuat dari pohon sejenis Pinang yang memiliki duri dan di namakan Nibung) yang manjadi beban di kampung ini adalah masalah jalan yang semakin hari semakin kecil. akibatnya bagi pengendara motor kesukaran untk berselisih
ini adalah gambar-gambar fasilitas umjum yang ada di dusun pendawan,,
![]() |
| Jembatan Nibung menuju dusun Pandam |
![]() |
| SDN 03 Pendawan |
![]() |
| SDN |
![]() |
| SDN |
![]() |
| SDN |
![]() |
| Masjid Jihad |
![]() |
| Pintu gerbang mssuk |
Suku Sambas
Suku Sambas (Melayu Sambas) adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang berbudaya melayu, berbahasa Melayu dan menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Pontianak- Kalimantan Barat. Suku Melayu Sambas terkadang juga disebut Suku Sambas, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan oleh masyarakat setempat.
Secara liguistik Suku Sambas merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak, khususnya dayak Melayik yang dituturkan oleh 3 suku Dayak : Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Berau, Kedayan (Brunei), Senganan, Sambas yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa suku berbudaya Melayu yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah Kutai, Tidung dan Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) serta Paser (rumpun Barito Raya).
Pada awalnya Sambas bukanlah nama suku, akan tetapi nama tempat/wilayah dan nama Kerajaan yang berada tepat di pertemuan 3 sungai yaitu sungai Sambas Kecil, sungai Subah dan sungai Teberau yang lebih dikenal dengan Muara Ulakan. Seluruh masyarakat asli Kalimantan sendiri sebenarnya adalah Serumpun, Antara Ngaju, Maanyan, Iban, Kenyah, Kayatn, Kutai ( Lawangan - Tonyoi - Benuaq ), Banjar ( Ngaju, Iban , maanyan, dll ), Tidung, Paser, dan lainnya. Hanya saja Permasalahan Politik Penguasa dan Agama menjadi jurang pemisah antara keluarga besar ini. Mereka yang meninggalkan kepercayaan lama akhirnya meninggalkan adatnya karena lebih menerima kepercayaan baru dan berevolusi menjadi Masyarakat Melayu Muda. Khususnya dalam Islam maupun Nasrani, hal - hal adat yang bertolak belakang dengan ajaran akan ditinggalkan. Sedangkan yang tetap teguh dengan kepercayaan lama disebut dengan Dayak. Adat-istiadat lama Suku Melayu Sambas banyak kesamaan dengan adat-istiadat Suku Dayak rumpun Melayik misalnya; tumpang 1000, tepung tawar, dan lainnya yang bernuansa Hindu.
Secara administratif, Suku Sambas merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 12% dari penduduk Kalimantan Barat, sebelumnya suku Sambas tergabung ke dalam suku Melayu pada sensus 1930. Sehubungan dengan hal tersebut kemungkinan "Dialek Melayu Sambas" meningkat statusnya dari sebuah dialek menjadi bahasa kesukuan yaitu Bahasa Suku Sambas.
Perubahan Suku Sambas secara drastis setelah masuk Islam, hampir menghapus jejak asal muasalnya yaitu Suku asli yang mendiami pulau Kalimantan. Kebudayaan Melayu yang dianggap lebih "beradab", membantu menghilangkan budaya Dayak pada Suku Sambas dengan cepat. Sehingga Sambas yang dahulunya beragama Hindu Kaharingan kehilangan jejak Kaharingan, walaupun sebagian kecil ada yang tersisa. Akibatnya orang lebih yakin Sambas adalah Melayu, padahal tidaklah demikian. Tentu saja segala hal dalam adat lawas dianggap syirik (bertentangan dengan agama) jadi harus dimusnahkan dan ditinggalkan.
Sulitnya data semakin mempersulit para peneliti untuk mencari jejak asal muasal Suku Sambas. Membuat hasil penelitian terlihat ambigu bahkan samar. Peneliti seringkali mengklasifikasikan berdasarkan bahasa, sedangkan menurut orang Kutai dan Tunjung-Benuaq mengenal tradisi lisan yang mengklasifikasikan golongan berdasarkan budaya dan sejarah budayanya serta geneologi. Oleh karena itulah Suku Sambas diklasifikasikan ke dalam suku Dayak berbudaya Melayu.
Kabupaten Sambas terkenal dengan sebuah peninggalan sejarah yaitu sebuah keraton peninggalan Kesultanan Sambas. Penduduknya mayoritas melayu, dan berbahasa melayu. Sebagian besar bahasa yang digunakan adalah sama. Bahasa Melayu sangat mudah dipahami, apalagi bagi orang yang mendengar orang Betawi berbicara, karena kurang lebih bahasa Betawi dan Melayu sama, misalnya: Seseorang berbicara, "Kamu mau ke mana?", jika dalam bahasa melayu "Kau nak ke mane", (penyebutan "e" dalam bahasa melayu, sedangkan bahasa suku Sambas membunyikan "e" seperti bunyi pada kata "lele". Keunikan lain dari bahasa Melayu Sambas adalah pengucapan huruf ganda seperti dalam Bahasa [Melayu] Berau di Kalimantan Timur, seperti pada kata 'bassar' (artinya besar dalam bahasa indonesia).
Cerita keramahan orang sambas
Semilir angin saja, tidak dapat dirasakan. Hanya panas, panas, dan panas
Badan pun suhunya tidak enak, karena memang sedang tidak enak badan
Jantung dag-dig-dug pleng pun masih terasa karena sempat turbulensi ketika di dalam pesawat
Menunggu di tempat travel menuju Pontianak-Sambas buang-buang waktu, lama
Ketika mobil mulai berjalan, rasa kantuk akibat obat sudah tidak dapat ditoleransi lagi
Akhirnya terlelap hingga sampai ke tujuan
Cukup lama terlelap dalam perjalanan
Kota Singkawang pun sampai tidak teramati
Sampailah di tujuan
Sambas, kabupaten perbatasan Indonesia-Malaysia
Pertama kali menginjakan, hanya pening di kepala
Rasanya ingin pulang kembali ke Jakarta
Di sela pening, kaki mulai melangkah mencari dokter
Tidak ada yang buka satu pun
Lemas sudah badan...
Mendadak seorang wanita yang baik hati menghantarkan ke seorang 'mantri' yang terkenal di Sambas
Tidak sampai sejam, sang mantri memberikan obat-obatan yang lumayan banyak
Hmmm...efek tidak nafsu makan membuat badan meradang ternyata
Tidak langsung di bawa ke temnpat penginapan, melainkan dihantarkan keliling Sambas
Walaupun hanya sekejap, tetapi sangat berkesan
Melihat Masjid Jami Kesultanan Sambas dan Istana Kesultanan Sambas
Bangunan kuno, tetapi rasa kagum tidak terbendung
Terasa kental adat Melayu-nya
Ternyata ada cerita mistis yang membuat orang-orang harus bersikap sopan di area masjid dan istana
Harus mengucapakan salam ketika memasuki gerbangnya
Konon di depan gerbang, terdapat 'penjaga' yang melindungi area masjid dan istana dari gangguan-gangguan negatif
Beginilah Indonesia, kita memang sudah diajarkan untuk bersikap sopan santun antar yang lainnya ^_^
Azan maghrib tiba, akhirnya sang ibu baik hati menghantarkan pulang ke penginapan
Selama perjalanan pulang, kami melewati Komplek Pemakaman Kesultanan Sambas
Ada rasa merinding ketika melewatinya
Selain berkeliling Sambas, sang ibu baik hati ini bercerita tentang makanan-makanan khas Sambas
Salahsatunya adalah Bubur Sambas
Sepintas sangat mirip dengan bubur ayam, tetapi yang berbeda adalah sambalnya
Katanya sambalnya super duper pedas
Sayang tidak bisa mencoba karena sakit T_T
Sampailah di penginapan
Sang ibu baik hati segera pulang ke rumahnya
Sungguh hari yang indah
Pagi harinya, sakit di badan mulai hilang
Hebat ternyata sang mantri ini
Bersiap-siap untuk meliput tim peneliti pertanian
Sore hari, mobil travel datang menjemput untuk kembali ke Pontianak
Rasa sedih cukup menghantui diri
Terasa berat untuk meninggalkan Sambas
Masih ingin mengekploitasi keindahan Sambas
Rintik hujan mulai dirasakan ketika meninggalkan Sambas
Selamat tinggal Sambas
Sampai jumpa lagi di kemudian hari
Terima kasih untuk semua masyarakat di Sambas
Terutama untuk sang ibu baik hati, Ibu Yuyun
Kerusuhan Sambas-menurut para Ahli
BENTURAN BUDAYA DAN RASA KEADILAN
TRAGEDI Sambas sudah berlangsung dua bulan, menghancurkan sekitar 3.000
rumah, dan menewaskan lebih 200 orang. Mengapa amuk massa di Sambas bisa
terjadi? Kata antropolog senior dari Universitas Indonesia, Prof Dr
Parsudi Suparlan (61), “Itu ungkapan frustrasi sosial yang mendalam dan
berkepanjangan yang dirasakan orang-orang Melayu atas perbuatan
sewenang-wenang orang Madura sebelumnya.”
Parsudi menarik kesimpulan itu sesudah memimpin tim pakar bentukan
Markas Besar Kepolisian RI membuat penelitian di tempat kerusuhan, 9-20
April 1999. Mereka meneliti di tiga wilayah kajian, yaitu Pontianak,
Sambas/Singkawang, dan desa-desa kantung konflik. Tim itu beranggota
pakar antropologi, sosiologi, dan psikologi: Prof Dr S Budhisantoso,
Prof Dr Sardjono Jatiman SH, Prof Dr Sarlito W Sarwono, Prof Dr Syarif
Ibrahim Alqadrie. Bersama mereka ada dua polisi dari Perguruan Tinggi
Ilmu Kepolisian (PTIK) Letkol (Pol) Drs Bambang Wahyono MSi dan Letkol
(Pol) Drs Agus Wantoro MSi.
Tim ini mewawancarai masyarakat Melayu, Dayak, dan Madura. Mereka
mendatangi warga di desa/kecamatan seperti di Pemangkat dan Jawai
(Kabupaten Sambas), bertatap muka dengan masyarakat Melayu di Keraton
Sambas, dan masyarakat Melayu/Dayak di aula mes pemda setempat di
Singkawang. Wawancara dengan tokoh Madura Singkawang dilakukan di hotel
di Singkawang, demi keamanan bersama.
***
MENURUT Budhisantoso (62), pakar antropologi dari UI, penyebab kerusuhan
adalah faktor kebudayaan dan environmental scarcity (keterbatasan
sumber daya dan lingkungan). Orang Melayu yang-seperti orang Jawa dan
Sunda, menghindari konflik dan lebih suka hidup damai-menghadapi tekanan
lingkungan akibat pembangunan nasional yang tidak menjamin rasa adil,
tak ada demokrasi berpolitik dan berbudaya. Hutan-hutan mereka diambil
untuk keperluan pengusaha HPH. Mereka menghadapi masyarakat Madura yang
sebagian besar mencari keuntungan materi dengan cara apa pun.
“Orang Melayu-seperti orang Dayak-mencari nafkah sekadar memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika arus pendatang makin deras, orang
Melayu melihat, lapangan kerja yang sebelumnya tidak diperhitungkan,
ternyata membuahkan keuntungan, misalnya sektor angkutan umum. Orang
Melayu bukannya kalah bersaing, tetapi dalam budayanya sudah ditanamkan
untuk menghindari konflik,” katanya.
Benturan budaya yang semakin kuat membuat orang Melayu akhirnya meledak.
Persoalannya, masyarakat Melayu belum menyiapkan pranata untuk
memenangkan persaingan menguasai sumber daya. Yang ada sekarang, mereka
tetap merasa diri terinjak-injak dan teraniaya. Persoalannya menurut
sosiolog UI Prof Dr Sardjono Jatiman (58), masyarakat pendatang memiliki
kultur kekerasan. Katanya, “Untuk menyelesaikan setiap persoalan selalu
dengan senjata. Mereka memiliki budaya miskin yang menghalalkan segala
cara, sehingga terjadilah benturan-benturan budaya.”
Sosiolog Universitas Tanjungpura Pontianak, Prof Dr Syarif Ibrahim
Alqadrie mengungkapkan, solusi jangka pendek adalah mengeluarkan untuk
sementara waktu warga Madura dari kantung-kantung konflik di Kabupaten
Sambas. Sesudah itu, tambah Sardjono, mereka meminta maaf kepada
masyarakat Melayu (dan juga Dayak).
***
PERTIKAIAN antaretnis yang terjadi berulang kali di Kalbar, menurut
Sardjono, karena masing-masing kelompok tidak belajar dari pengalaman
untuk hidup bersama secara menguntungkan. “Ibaratnya, pelajar sekolah
tidak naik kelas berkali-kali. Dan kalau sampai sebelas kali, itu sudah
keterlaluan,” katanya.
Parsudi Suparlan melihat masyarakat pendatang tidak belajar dari diri
sendiri dan dari orang lain. Tegasnya, “Kok di daerah lain orang Madura
bisa akur, tetapi di Kalbar selalu bertikai. Ini disebabkan masyarakat
Melayu tidak tegas menuntut.” Menurut Parsudi, masyarakat Madura
menyadari kekeliruan mereka. Dalam pertemuan dengan tim pakar Mabes
Polri, mereka bersedia mengoreksi warganya yang melanggar hukum.
Perbuatan oleh pribadi dan individu, tidak boleh dianggap sebagai
perbuatan kelompok. Kalau satu orang mencuri, satu kampung tidak
kemudian “mendukung” individu yang berbuat salah, seperti yang terjadi
selama ini.
Singkatnya, kata Sardjono, aturan main harus adil. Pelanggaran hukum
harus diselesaikan melalui lembaga adat dan proses penegakan hukum yang
adil. Tetapi ini semua tidak terjadi di Sambas. Kasus penyerangan
perkampungan Melayu di Desa Parit setia (Kecamatan Jawai) oleh
masyarakat Madura pada Hari Idul Fitri 19 Januari, kata Budhisantoso,
seharusnya dapat diselesaikan melalui proses hukum yang adil. Masyarakat
Melayu melihat dan mengalami ketidakadilan ini bukan cuma satu-dua
kali, tetapi sudah bertahun-tahun. Mereka merasa seperti dijajah.
Kemarahan terungkap dalam amuk massa, karena menganggap hukum tak lagi
adil. Dalam berbagai kasus, begitu ada warga pendatang ditangkap polisi,
satu kampung mendatangi kantor polisi dan mengintimidasi petugas serta
pihak yang melaporkan mereka. Warga melihat petugas tidak tegas karena
dengan mudahnya melepaskan penjahat, preman yang meresahkan, hanya
karena uang. Rasa keadilan yang tidak terpenuhi serta benturan-benturan
budaya yang terjadi lebih 50 tahun lamanya di Sambas, melahirkan
“pengadilan rakyat” yang membuahkan sebuah tragedi umat manusia.
Sabtu, 30 November 2013
Anggota SCG-Joksam (Joging same-same)
![]() |
| Saat Senam same-same |
Jumat, 29 November 2013
Asal mula Kota SAMBAS
Jika anda berkunjung ke Sambas,sepertinya tidak lengkap kalau belum
masuk ke Keraton Sambas,paling tidak melihat dihalaman keraton. seperti
itulah bunyi suara-suara yang sering saya dengar. Karena di Keraton
inilah banyak meninggalkan sejarah tentang sejarah dan latar belakang
berdirinya Sambas. Buat yang belum pernah berkunjung ke Sambas mungkin
dengan membaca artikel
ini semoga saja bisa lebih jelas sedikit tentang keberadaan kota Sambas. Kerajaan Sambas khususnya.
Kesultanan Sambas adalah sebuah kerajaan yang berdiri di kota
Sambas,Kalimantan Barat. Seperti apa sejarahnya ????.....Langsung saja
ke sumbernya .ini semoga saja bisa lebih jelas sedikit tentang keberadaan kota Sambas. Kerajaan Sambas khususnya.
Kerajaan yang bernama Sambas di Pulau Borneo atau Kalimantan ini telah ada paling tidak sebelum abad ke-14 M sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Negara Kertagama karya Prapanca. Pada masa itu Rajanya mempunyai gelaran “Nek” yaitu salah satunya bernama Nek Riuh. Setelah masa Nek Riuh, pada sekitar abad ke-15 M muncul pemerintahan Raja yang bernama Tan Unggal yang terkenal sangat kejam. Karena kekejamannya ini Raja Tan Unggal kemudian dikudeta oleh rakyat dan setelah itu selama puluhan tahun rakyat di wilayah Sungai Sambas ini tidak mau mengangkat Raja lagi.
Pada masa kekosongan pemerintahan di wilayah Sungai Sambas inilah kemudian pada awal abad ke-16 M (1530 M) datang serombongan besar Bangsawan Jawa (sekitar lebih dari 500 orang) yang diperkirakan adalah Bangsawan Majapahit yang masih hindu melarikan diri dari Pulau Jawa (Jawa bagian timur) karena ditumpas oleh pasukan Kesultanan Demak dibawah Sultan Demak ke-3 yaitu Sultan Trenggono.
Pada saat itu di pesisir dan tengah wilayah Sungai Sambas ini telah sejak ratusan tahun didiami oleh orang-orang Melayu yang telah mengalami asimilasi dengan orang-orang Dayak pesisir dimana karena saat itu wilayah ini sedang tidak ber-Raja (sepeninggal Raja Tan Unggal) maka kedatangan rombongan Bangsawan Majapahit ini berjalan mulus tanpa menimbulkan konflik. Rombongan Bangsawan Majapahit ini kemudian menetap di hulu Sungai Sambas yaitu di suatu tempat yang sekarang disebut dengan nama “Kota Lama”.
Setelah sekitar lebih dari 10 tahun menetap di “Kota Lama” dan melihat keadaan wilayah Sungai Sambas ini aman dan kondusif maka kemudian para Bangsawan Majapahit ini mendirikan sebuah Panembahan / Kerajaan hindu yang kemudian disebut dengan nama “Panembahan Sambas”. Raja Panembahan Sambas ini bergelar “Ratu” (Raja Laki-laki)dimana Raja yang pertama tidak diketahui namanya yang kemudian setelah wafat digantikan oleh anaknya yang bergelar Ratu Timbang Paseban, setelah Ratu Timbang Paseban wafat lalu digantikan oleh Adindanya yang bergelar Ratu Sapudak. Pada masa Ratu Sapudak inilah untuk pertama kalinya diadakan kerjasama perdagangan antara Panembahan Sambas ini dengan VOC yaitu pada tahun 1609 M.
Pada masa Ratu Sapudak inilah rombongan Sultan Tengah (Sultan Sarawak ke-1) bin Sultan Muhammad Hasan (Sultan Brunei ke-9) datang dari Kesultanan Sukadana ke wilayah Sungai Sambas dan kemudian menetap di wilayah Sungai Sambas ini (daerah Kembayat Sri Negara. Anak laki-laki sulung Sultan Tangah yang bernama Sulaiman kemudian dinikahkan dengan anak bungsu Ratu Sapudak yang bernama Mas Ayu Bungsu sehingga nama Sulaiman kemudian berubah menjadi Raden Sulaiman. Raden Sulaiman inilah yang kemudian setelah keruntuhan Panembahan Sambas di Kota Lama mendirikan Kerajaan baru yaitu Kesultanan Sambas dengan Raden Sulaiman menjadi Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddin I yaitu pada tahun 1675 M.
Sejarah Ringkas Kesultanan Sambas
Sebelum berdirinya Kesultanan Sambas pada tahun 1675 M, di wilayah Sungai Sambas ini sebelumnya telah berdiri Kerajaan-Kerajaan yang menguasai wilayah Sungai Sambas dan sekitarnya. Berdasarkan data-data yang ada, urutan Kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Sungai Sambas dan sekitarnya sampai dengan terbentuknya Negara Republik Indonesia adalah :
1. Kerajaan Nek Riuh sekitar abad 13 M – 14 M.
2. Kerajaan Tan Unggal sekitar abad 15 M.
3. Panembahan Sambas pada abad 16 M.
4. Kesultanan Sambas pada abad 17 M – 20 M.
Secara otentik Kerajaan Sambas telah eksis sejak abad ke 13 M yaitu sebagaimana yang tercantum dalam Kitab Negara Kertagama karya Prapanca pada masa Majapahit (1365 M). Kemungkinan besar bahwa Kerajaan Sambas saat itu Rajanya bernama Nek Riuh. Walaupun secara otentik Kerajaan Sambas tercatat sejak abad ke-13 M, namun demikian berdasarkan benda-benda arkelogis (berupa gerabah, patung dari masa hindu)yang ditemukan selama ini di wilayah sekitar Sungai Sambas menunjukkan bahwa pada sekitar abad ke-6 M atau 7 M di sekitar Sungai Sambas ini diyakini telah berdiri Kerajaan.
Hal ini ditambah lagi dengan melihat posisi wilayah Sambas yang berhampiran dengan Selat Malaka yang merupakan lalu lintas dunia sehingga diyakini bahwa pada sekitar abad ke-5 hingga 7 M di wilayah Sungai Sambas ini telah berdiri Kerajaan Sambas yaitu lebih kurang bersamaan dengan masa berdirinya Kerajaan Batu Laras di hulu Sungai Keriau yaitu sebelum berdirinya Kerajaan Tanjungpura.
Sedangkan sejarah berdirinya Kesultanan Sambas berumula di Kesultanan Brunei yaitu ketika Sultan Brunei ke-9 yaitu Sultan Muhammad Hasan wafat pada tahun 1598 M, maka kemudian putra Baginda yang sulung menggantikannya dengan gelar Sultan Abdul Jalilul Akbar. Ketika Sultan Abdul Jalilul Akbar telah memerintah puluhan tahun kemudian muncul saingan untuk menggantikan dari Adinda Sultan Abdul Jalilul Akbar yang bernama Pangeran Muda Tengah. Untuk menghindari terjadinya perebutan kekuasaan maka Baginda Sultan Abdul Jalilul Akbar membuat kebijaksanaan untuk memberikan sebagai wilayah kekuasaan Kesultanan Brunei yaitu daerah Sarawak kepada Pangeran Muda Tengah. Maka kemudian pada tahun 1629 M, Pangeran Muda Tengah menjadi Sultan di Sarawak sebagai Sultan Sarawak pertama dengan gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah yang kemudian Baginda lebih populer di kenal dengan nama Sultan tengah atau Raja Tengah yaitu merujuk kepada gelaran Baginda sebelum menjadi Sultan yaitu Pangeran Muda Tengah.
Peninggalan Kesultanan Sambas
Peninggalan dari jejak Kesultanan Sambas yang masih ada hingga saat ini adalah Masjid Jami’ Kesultanan Sambas, Istana Sultan Sambas, Makam-makam Sultan Sambas dari Sultan Sambas pertama hingga Sultan Sambas ke-14 serta sebagian alat-alat kebesaran Kerajaan seperti tempat tidur Sultan terakhir, kaca hias, seperangkat alat untuk makan sirih, pakaian kebesaran Sultan, payung ubur-ubur, tombak canggah, 3 buah meriam canon di depan istana dan 2 buah meriam lele, 2 buah tempayan keramik dari negeri Tiongkok dan 2 buah kaca kristal dari Kerajaan Perancis dan Belanda. Sebagian besar barang-barang peninggalan Kesultanan Sambas lainnya telah hilang atau terjual oleh oknum tertentu, namun secara fisik jejak Kesultanan Sambas masih terlihat jelas dan terasa kuat di Sambas ini. Juga Keturunan dari Sultan-Sultan Sambas ini bertebaran di wilayah Borneo (Kalimantan) Barat ini baik di Kota Sambas, Singkawang dan Pontianak yang sebagiannya masih menggunakan gelaran Raden.
Lokasinya sendiri tepat terletak di bibir sungai Sambas, yang menjadikan pemandangan di sekitar istana ini menjadi sangat nyaman ketika ditambah dengan keasrian berbagai vegetasi yang terletak di sekitar istana tersebut. Setelah melewati sebuah gapura, para pengunjung kemudian akan disambut dengan berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Sambas yang terletak di halaman istana, seperti tiga meriam yang seperti selalu siap untuk menjaga keberadaan istana ini. Sebelum mencapai gapura kedua, di sisi kanan para pengunjung dapat menjumpai Mesjid Jami' Sultan Syafiuddin yang kokoh hangat berdiri menyambut siapapun yang berniat untuk beribadah ke dalamnya.
Bagian dalam ruangan istana ini sendiri terbagi atas tiga bgian umum, bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Dengan nuansa warna kuning khas melayu yang mendominasi di penjuru ruangan, para pengunjung dapat melihat berbagai foto, ruang kamar tempat tinggal para pengisi istana maupun bukti-bukti sejarah yang menceritakan mengenai keberadaan Kesultanan Sambas semenjak dulu. Walaupun tidak selalu berada di tempat, pengunjung dapat menemui seorang penjaga istana yang biasanya akan mau berbaik hati untuk menceritakan sekilas mengenai sejarah berdirinya istana tersebut.
Kesultanan Sambas sendiri telah berdiri cukup lama -- begitu lama hingga namanya sempat tercatat di kitab Negara Kertagama karya Prapanca. Dibangun pada 1675, Kesultanan Sambas merupakan generasi penerus dari beberapa Kerajaan Sambas yang sebelumnya telah berdiri di sisi Sungai Sambas. Pembangunannya sendiri diawali oleh pernikahan Sultan Tengah -- seorang pangeran yang berasal dari Brunei Darussalam yang kemudian masuk Islam ketika singgah di Kerajaan Matan, Tanjungpura -- dengan adik Sultan Muhammad Syafiuddin, raja Kerajaan Matan, Ratu Surya Kesuma. Sultan Tengah kemudian memboyong keluarga barunya ke kota Bangun, yang berdekatan dengan ibukota Kerajaan Sambas, kota Lama. Saat itu, Kerajaan Sambas sendiri merupakan sebuah kerajaan Hindu. Namun dengan strategi yang tepat, yaitu menikahkan putera bungsunya, Raden Sulaiman, dengan puteri Ratu Sepudak, Mas Ayu Bungsu, dari Kerajaan Sambas, perlahan-lahan kerajaan Hindu tersebut mulai berubah menjadi sebuah kesultanan Islam. Istana Alwatzikhoebillah sendiri baru mulai dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943), sultan ke-15 Kesultanan Sambas.
Sejak bulan Februari 2008, pemangku Istana Alwatzikhoebillah dipercayakan kepada Pangeran Ratu M. Tarhan Winata Kesuma
Sumber : http://www.forumkami.net
Arung Parak-Kec. Tangaran
Desa Arung Parak, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tangaran – Kab. Sambas,
merupakan desa yang cukup beragam kondisi lingkungan alamnya. Bagian
barat desa ini merupakan kawasan pantai palawija,
sedangkan di bagian tengah merupakan perpaduan antara pasir dan tanah.
Nama Arung Parak sendiri berasal dari kata arung yang menurut bahasa
setempat (Sambas Tangaran)
berarti kawasan timbunan pasir dan parak yang merupakan jenis pohon
setempat yaitu pohon parak. Berdasarkan keterangan tetua masyarakat desa
ini, Arung Parak berarti timbunan pasir yang ditutupi oleh daun parak.
Tidak jauh dari desa ini terletak desa Tanah Hitam karena sebagian besar kawasannya merupakan wilayah pasir yang berwarna hitam.
yang mengandung pasir hitam, bagian timur merupakan tanah murni yang cocok untuk tanaman
Antara Desa Arung Parak dan Desa Tanah hitam terdapat Desa Kalimantan yang menurut penduduk setempat namanya berasal dari spesies buah manga yang terdapat hanya di desa ini yaitu buah kalimantan.
Desa Arung Parak bersama desa-desa lainnya yang tergabung dalam Kecamatan Tangaran dulunya sebelum tahun 2004 masih bergabung pada Kecamatan Teluk Keramat. Pada tahun 2004, desa-desa di kawasan yang dilalui Sungai Tangaran dan Sungai Serabek bagian utara resmi memisahkan diri dengan Kecamatan Teluk Keramat. Alasan pemisahanini adalah karena jauhnya jarak antara ibu kota kecamatan sebelumnya dengan desa-desa yang bergabung di kecamatan yang baru dibentuk tersebut. Desa yang terdekat dengan ibukota kecamatan Teluk Keramat (Kota Sekura) adalah desa Semata Biangsu yang jaraknya kurang lebih 7 km. Jarak Desa Arung Parak sendiri dengan Kota Sekura kurang lebih 28 km. Kini dengan berdirinya kecamatan baru, jarak Desa Arung Parak dengan ibu kota Kecamatan relatif (Desa Simpang Empat) cukup dekat yaitu kurang lebih 6 km.
Sebagai daerah pantai, tumbuhan pantai khususnya kelapa tumbuh subur di Desa Arung Parak. Lautnya yang tenang dan tidak terlalu dalam memungkinkan beragam spesies ikan yang layak dimakan berkembang biak dengan pesat. Namun sebagaimana daerah yang berada di dekat pantai lainnya, desa ini rawan bencana alam yang berasal dari arah laut seperti badai angin, badai gelombang, abrasi pantai bahkan tsunami.
Pada tahun 2002, terjadi tsunami kecil yang meluluh lantakkan delapan rumah penduduk yang berada di dekat pantai. Mata pencaharian utama penduduk Desa Arung Parak adalah perikanan, perkebunan dan pertanian. Sektor perikanan menjadi sektor penting bukan hanya sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat Arung Parak tapi juga sebagai pemasok ikan bagi penduduk KecamatanTangaran dan sekitarnya. Kelapa sebagai komoditi perkebunan juga menjadikan kawasan ini penting bagi pasokan bahan baku minyak kelapa penduduk sekitarnya. Biasanya penduduk menjual hasil tangkapan ikan dan perkebunan kelapa di ibukota Kecamatan Tangaran (Desa Simpang Empat) dan ibukota Kecamatan Teluk Keramat (Kota Sekura).
Untuk menambah penghasilan yang cukup besar, beberapa penduduk terutama pemuda atau pemudi mencari penghasilan ke luar daerah bahkan luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan penebangan kayu (dalam istilah setempat pergi ke PT) atau bekerja sebagai TKI/TKW.
Penghasilan besar yang diterima pekerja perusahaan penebangan kayu dan TKI/TKW memancing kalangan pemuda bahkan yang masih di bawah umur untuk bekerja di bidang tersebut. Tak heran banyak yang putus sekolah di tingkat sekolah dasar dan menengah hanya untuk bekerja di bidang tersebut. Bagi mereka semata-mata mengandalkan pencaharian hanya pada sektor perikanan, perkebunan kelapa termasuk pertanian tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mereka terutama kebutuhan sekunder dan kebutuhan tertier mereka.Lembaga dan sarana pendidikan di Arung Parak tergolong baik.
Sudah ada SD di desa tersebut dan tidak jauh dari desa itu di desa tetangga ada SMP yaitu di desa Kalimantan, Bahkan tidak lebih dari 3 km dari Arung Parak sudah ada SMK yaitu didesa Tanah Hitam. Lembaga kesehatan juga sudah didirikan di Arung Parak berupa Puskesmas Pembantu sebagai perpanjangan dari Puskesmas di ibu kota kecamatan.Sarana transportasi, penerangan dan informasi tergolong baik. Aksesibilitas ke desa ini cukup lancar baik dari arah selatan lingkar jalan Kabupaten yang melewati desa-desa dimulaidari Sekura - Simpang Empat – Pancur – Sebayung dan Semutah maupun dari arah utara jalan propinsi yaitu dari kecamatan Paloh – Desa tanah hitam - Desa Mentibar – Desa Matang Putus.
Kondisi jalan baik dari dan ke desa ini sudah baik dan diaspa, Lalu lintas di jalan utama Desa Arung Parak cukup padat karena tiap rumah tangga memiliki satu sepeda bermotor. Semua rumah penduduk tersambung dengan aliran listrik dengan PLN walaupun masih banyak menghadapi kendala seringnya mati listrik. Setiap rumah tangga memiliki minimal satu unit televisi dan satu unit telepon genggam. Khusus televisi, acara yang paling mudah ditangkap adalah siaran televisi dari negara tetangga Malaysia. Untuk menikmati siaran dari stasiun Indonesia yang lebih luas penduduk membeli parabola dan hampir setiap rumah tangga sudah memilikinya.
Penduduk asli Arung Parak adalah suku Melayu. Sebagaimana penduduk Melayu lainnya, budaya yang tepung tawar, beras kuning, pakaian teluk belanga merupakan adat-istiadat yang tidak ketinggalan dalam acara-acara sakral dan ritual keagamaan mereka yang menganut agama Islam. Namun ada satu adat kebiasaan yang sangat khas dilakukan masyarakat Arung Parak yaitu upacara mengantar aJung . Walaupun istilah aJung dipercaya berasal dari bahasa cina merujuk pada jenis perahu ala cina yaitu Jung namun pelaksanaan upacaranya kental bernuansa pengaruh agama Hindu. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa upacara ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada alam atas hasil panen yang mereka dapatkan. Sebagai ungkapan rasa syukur, mereka menyajikan sebagian hasil panen mereka yang telah diolah menjadi ketupat yang diantarkan ke penguasa laut dalam kendaraan berupa perahu Jung. Pada malam sebelum hari puncak upacara, seorang dukun akan menyajikan tarian ritual dengan mantera yang membuatnya menari dalam kondisike surupan. Pelaksanaan tarian ini disebut dengan istilah besiak . Budaya ngantar aJung yang dilakukan oleh masyarakat Desa Arung Parak yang merupakan penganut agama Islam adalah warisan budaya Hindu.
Orang-orang Melayu termasuk nenek moyang penduduk Arung Parak dulunya merupakan penganut agama Hindu. Bahkan kerajaan Sambas tua sebagai wilayah pemerintahan yang wilayah kekuasaanya juga meliputi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sambas saat ini adalah kerajaan Hindu. Siitus peninggalannya Kerajaan Sambas tua dapat ditemukan di Desa Kota Lama, yang rajanya bernama bernama Ratu Sepudak yang dipercaya berasal dari kerajaan Majapahit. Kemungkinan besar pengaruh Islam berkembang pesat di kawasan ini termasuk Desa ArungParak sejak tampuk pemerintahan Kerajaan Sambas dipegang oleh Sultan Syafiudin I (1000M s.d 1081 M).
Tradisi gotong royong dan musyawarah masih kental di Desa Arung Parak. Namun masyarakat tidak menolak pendidikan dan pembangunan. Beberapa orang dari Desa ini sudah sarjana. Masyarakat di Desa Arung Parak termasuk masyarakat yang terbuka dan ramah terhadap pendatang dari luar daerah, Tak heran jika masyarakat di sekitarnya khususnya kaum muda-mudi suka berkun Jung ke desa ini terutama untuk menikmati suasana pantai atau sekedar berkumpul beramai pada malam tertentu. Pada liburan lebaran Idul Fitri, Pantai Arung Parak tak pernah sepi dari pengun Jung atau wisatawan lokal.
yang mengandung pasir hitam, bagian timur merupakan tanah murni yang cocok untuk tanaman
Antara Desa Arung Parak dan Desa Tanah hitam terdapat Desa Kalimantan yang menurut penduduk setempat namanya berasal dari spesies buah manga yang terdapat hanya di desa ini yaitu buah kalimantan.
Desa Arung Parak bersama desa-desa lainnya yang tergabung dalam Kecamatan Tangaran dulunya sebelum tahun 2004 masih bergabung pada Kecamatan Teluk Keramat. Pada tahun 2004, desa-desa di kawasan yang dilalui Sungai Tangaran dan Sungai Serabek bagian utara resmi memisahkan diri dengan Kecamatan Teluk Keramat. Alasan pemisahanini adalah karena jauhnya jarak antara ibu kota kecamatan sebelumnya dengan desa-desa yang bergabung di kecamatan yang baru dibentuk tersebut. Desa yang terdekat dengan ibukota kecamatan Teluk Keramat (Kota Sekura) adalah desa Semata Biangsu yang jaraknya kurang lebih 7 km. Jarak Desa Arung Parak sendiri dengan Kota Sekura kurang lebih 28 km. Kini dengan berdirinya kecamatan baru, jarak Desa Arung Parak dengan ibu kota Kecamatan relatif (Desa Simpang Empat) cukup dekat yaitu kurang lebih 6 km.
Sebagai daerah pantai, tumbuhan pantai khususnya kelapa tumbuh subur di Desa Arung Parak. Lautnya yang tenang dan tidak terlalu dalam memungkinkan beragam spesies ikan yang layak dimakan berkembang biak dengan pesat. Namun sebagaimana daerah yang berada di dekat pantai lainnya, desa ini rawan bencana alam yang berasal dari arah laut seperti badai angin, badai gelombang, abrasi pantai bahkan tsunami.
Pada tahun 2002, terjadi tsunami kecil yang meluluh lantakkan delapan rumah penduduk yang berada di dekat pantai. Mata pencaharian utama penduduk Desa Arung Parak adalah perikanan, perkebunan dan pertanian. Sektor perikanan menjadi sektor penting bukan hanya sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat Arung Parak tapi juga sebagai pemasok ikan bagi penduduk KecamatanTangaran dan sekitarnya. Kelapa sebagai komoditi perkebunan juga menjadikan kawasan ini penting bagi pasokan bahan baku minyak kelapa penduduk sekitarnya. Biasanya penduduk menjual hasil tangkapan ikan dan perkebunan kelapa di ibukota Kecamatan Tangaran (Desa Simpang Empat) dan ibukota Kecamatan Teluk Keramat (Kota Sekura).
Untuk menambah penghasilan yang cukup besar, beberapa penduduk terutama pemuda atau pemudi mencari penghasilan ke luar daerah bahkan luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan penebangan kayu (dalam istilah setempat pergi ke PT) atau bekerja sebagai TKI/TKW.
Penghasilan besar yang diterima pekerja perusahaan penebangan kayu dan TKI/TKW memancing kalangan pemuda bahkan yang masih di bawah umur untuk bekerja di bidang tersebut. Tak heran banyak yang putus sekolah di tingkat sekolah dasar dan menengah hanya untuk bekerja di bidang tersebut. Bagi mereka semata-mata mengandalkan pencaharian hanya pada sektor perikanan, perkebunan kelapa termasuk pertanian tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mereka terutama kebutuhan sekunder dan kebutuhan tertier mereka.Lembaga dan sarana pendidikan di Arung Parak tergolong baik.
Sudah ada SD di desa tersebut dan tidak jauh dari desa itu di desa tetangga ada SMP yaitu di desa Kalimantan, Bahkan tidak lebih dari 3 km dari Arung Parak sudah ada SMK yaitu didesa Tanah Hitam. Lembaga kesehatan juga sudah didirikan di Arung Parak berupa Puskesmas Pembantu sebagai perpanjangan dari Puskesmas di ibu kota kecamatan.Sarana transportasi, penerangan dan informasi tergolong baik. Aksesibilitas ke desa ini cukup lancar baik dari arah selatan lingkar jalan Kabupaten yang melewati desa-desa dimulaidari Sekura - Simpang Empat – Pancur – Sebayung dan Semutah maupun dari arah utara jalan propinsi yaitu dari kecamatan Paloh – Desa tanah hitam - Desa Mentibar – Desa Matang Putus.
Kondisi jalan baik dari dan ke desa ini sudah baik dan diaspa, Lalu lintas di jalan utama Desa Arung Parak cukup padat karena tiap rumah tangga memiliki satu sepeda bermotor. Semua rumah penduduk tersambung dengan aliran listrik dengan PLN walaupun masih banyak menghadapi kendala seringnya mati listrik. Setiap rumah tangga memiliki minimal satu unit televisi dan satu unit telepon genggam. Khusus televisi, acara yang paling mudah ditangkap adalah siaran televisi dari negara tetangga Malaysia. Untuk menikmati siaran dari stasiun Indonesia yang lebih luas penduduk membeli parabola dan hampir setiap rumah tangga sudah memilikinya.
Penduduk asli Arung Parak adalah suku Melayu. Sebagaimana penduduk Melayu lainnya, budaya yang tepung tawar, beras kuning, pakaian teluk belanga merupakan adat-istiadat yang tidak ketinggalan dalam acara-acara sakral dan ritual keagamaan mereka yang menganut agama Islam. Namun ada satu adat kebiasaan yang sangat khas dilakukan masyarakat Arung Parak yaitu upacara mengantar aJung . Walaupun istilah aJung dipercaya berasal dari bahasa cina merujuk pada jenis perahu ala cina yaitu Jung namun pelaksanaan upacaranya kental bernuansa pengaruh agama Hindu. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa upacara ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada alam atas hasil panen yang mereka dapatkan. Sebagai ungkapan rasa syukur, mereka menyajikan sebagian hasil panen mereka yang telah diolah menjadi ketupat yang diantarkan ke penguasa laut dalam kendaraan berupa perahu Jung. Pada malam sebelum hari puncak upacara, seorang dukun akan menyajikan tarian ritual dengan mantera yang membuatnya menari dalam kondisike surupan. Pelaksanaan tarian ini disebut dengan istilah besiak . Budaya ngantar aJung yang dilakukan oleh masyarakat Desa Arung Parak yang merupakan penganut agama Islam adalah warisan budaya Hindu.
Orang-orang Melayu termasuk nenek moyang penduduk Arung Parak dulunya merupakan penganut agama Hindu. Bahkan kerajaan Sambas tua sebagai wilayah pemerintahan yang wilayah kekuasaanya juga meliputi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sambas saat ini adalah kerajaan Hindu. Siitus peninggalannya Kerajaan Sambas tua dapat ditemukan di Desa Kota Lama, yang rajanya bernama bernama Ratu Sepudak yang dipercaya berasal dari kerajaan Majapahit. Kemungkinan besar pengaruh Islam berkembang pesat di kawasan ini termasuk Desa ArungParak sejak tampuk pemerintahan Kerajaan Sambas dipegang oleh Sultan Syafiudin I (1000M s.d 1081 M).
Tradisi gotong royong dan musyawarah masih kental di Desa Arung Parak. Namun masyarakat tidak menolak pendidikan dan pembangunan. Beberapa orang dari Desa ini sudah sarjana. Masyarakat di Desa Arung Parak termasuk masyarakat yang terbuka dan ramah terhadap pendatang dari luar daerah, Tak heran jika masyarakat di sekitarnya khususnya kaum muda-mudi suka berkun Jung ke desa ini terutama untuk menikmati suasana pantai atau sekedar berkumpul beramai pada malam tertentu. Pada liburan lebaran Idul Fitri, Pantai Arung Parak tak pernah sepi dari pengun Jung atau wisatawan lokal.
Langganan:
Postingan (Atom)









+copy.jpg)






















